Sabtu, 20 April 2019

JUAL CBD OIL / CANNABIS OIL DI INDONESIA

GANJA MEDIS INDONESIA



Jual Cannabis Oil Homemade
        Rp 1.450.000
Jual Cannabis Oil Tinctur

Jual CBD Oil Malaya Hemp
Rp 1.650.000



RSHO GOLD LABEL ORAL
Rp 2.550.000


Jual RSHO Blue Label Oral
Rp 2.175.000







Jumat, 29 Maret 2019

JUAL PRODUK CBD OIL INDONESIA

CBD OIL UNTUK MEDIS


Cannabidiol adalah obat alami populer yang digunakan untuk banyak penyakit umum.

Lebih dikenal sebagai CBD, itu adalah salah satu dari 104 senyawa kimia yang dikenal sebagai cannabinoid yang ditemukan di tanaman ganja atau ganja, Cannabis sativa (1).

Tetrahydrocannabinol (THC) adalah cannabinoid psikoaktif utama yang ditemukan pada ganja, dan menyebabkan sensasi menjadi "tinggi" yang sering dikaitkan dengan ganja. Namun, tidak seperti THC, CBD tidak psikoaktif.

Kualitas ini menjadikan CBD pilihan yang menarik bagi mereka yang mencari bantuan dari rasa sakit dan gejala lain tanpa efek yang mengubah pikiran dari ganja atau obat-obatan farmasi tertentu.

Minyak CBD dibuat dengan mengekstraksi CBD dari tanaman ganja, kemudian mengencerkannya dengan minyak pembawa seperti kelapa atau minyak biji rami.

Ini mendapatkan momentum dalam dunia kesehatan dan kesejahteraan, dengan beberapa studi ilmiah mengkonfirmasikannya dapat membantu mengobati berbagai penyakit seperti rasa sakit kronis dan kecemasan.

Berikut adalah tujuh manfaat minyak CBD untuk kesehatan yang didukung oleh bukti ilmiah.


https://indocbdoil.info
menjual berbagai macam produk HEMP
HEMP STORE INDONESIA
Cannabis Oil
CBD Oil
RSO Oil
RSHO
CBD Vape
CBD Liquid
CBD Salve
CBD cartridges
Hemp Shoes
CBD Edibles
THC Oil
THC E-juice
THC Edibles



SEBAGAI PENGHILANG NYERI

Ganja telah digunakan untuk mengobati rasa sakit sejauh 2900 SM. (2)

Baru-baru ini, para ilmuwan telah menemukan bahwa komponen ganja tertentu, termasuk CBD, bertanggung jawab atas efek penghilang rasa sakitnya.

Tubuh manusia mengandung sistem khusus yang disebut sistem endocannabinoid (ECS), yang terlibat dalam mengatur berbagai fungsi termasuk tidur, nafsu makan, rasa sakit dan respon sistem kekebalan tubuh (3).

Tubuh memproduksi endocannabinoid, yang merupakan neurotransmiter yang mengikat reseptor kanabinoid dalam sistem saraf Anda.

Studi telah menunjukkan bahwa CBD dapat membantu mengurangi nyeri kronis dengan memengaruhi aktivitas reseptor endocannabinoid, mengurangi peradangan dan berinteraksi dengan neurotransmiter (4).

Sebagai contoh, satu studi pada tikus menemukan bahwa suntikan CBD mengurangi respons rasa sakit terhadap sayatan bedah, sementara studi tikus lainnya menemukan bahwa pengobatan CBD oral secara signifikan mengurangi nyeri saraf dan peradangan saraf sciatic (5, 6).

Beberapa penelitian pada manusia telah menemukan bahwa kombinasi CBD dan THC efektif dalam mengobati rasa sakit yang terkait dengan multiple sclerosis dan radang sendi.

Semprotan oral yang disebut Sativex, yang merupakan kombinasi dari THC dan CBD, disetujui di beberapa negara untuk mengobati rasa sakit yang terkait dengan multiple sclerosis.

Dalam sebuah studi pada 47 orang dengan multiple sclerosis, mereka yang diobati dengan Sativex selama satu bulan mengalami peningkatan yang signifikan dalam rasa sakit, berjalan dan kejang otot, dibandingkan dengan kelompok plasebo (7).

Studi lain menemukan bahwa Sativex secara signifikan meningkatkan rasa sakit selama gerakan, rasa sakit saat istirahat dan kualitas tidur pada 58 orang dengan rheumatoid arthritis (8).

                  INDONESIA CBD OIL & RSO OIL
https://www.indocbdoil.info


Bisa Mengurangi Kecemasan dan Depresi


Kecemasan dan depresi adalah gangguan kesehatan mental umum yang dapat berdampak buruk pada kesehatan dan kesejahteraan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, depresi adalah penyumbang tunggal terbesar untuk disabilitas di seluruh dunia, sementara gangguan kecemasan berada di peringkat keenam (9).

Kecemasan dan depresi biasanya diobati dengan obat-obatan farmasi, yang dapat menyebabkan sejumlah efek samping termasuk mengantuk, agitasi, insomnia, disfungsi seksual dan sakit kepala (10).

Terlebih lagi, obat-obatan seperti benzodiazepin dapat menimbulkan kecanduan dan dapat menyebabkan penyalahgunaan zat (11).

Minyak CBD telah menunjukkan janji sebagai pengobatan untuk depresi dan kecemasan, membuat banyak orang yang hidup dengan gangguan ini menjadi tertarik pada pendekatan alami ini.

Dalam satu penelitian, 24 orang dengan gangguan kecemasan sosial menerima 600 mg CBD atau plasebo sebelum tes berbicara di depan umum.

Kelompok yang menerima CBD memiliki kecemasan yang lebih sedikit, gangguan kognitif dan ketidaknyamanan dalam kinerja bicara mereka, dibandingkan dengan kelompok plasebo (12).

Minyak CBD bahkan telah digunakan untuk mengobati insomnia dan kecemasan dengan aman pada anak-anak dengan gangguan stres pasca-trauma (13).

CBD juga telah menunjukkan efek seperti antidepresan dalam beberapa penelitian pada hewan (14, 15).

Kualitas-kualitas ini terkait dengan kemampuan CBD untuk bertindak pada reseptor otak untuk serotonin, neurotransmitter yang mengatur suasana hati dan perilaku sosial.



Dapat Meringankan Gejala Terkait Kanker

CBD dapat membantu mengurangi gejala yang berkaitan dengan kanker dan efek samping yang terkait dengan pengobatan kanker, seperti mual, muntah, dan nyeri.

Satu studi melihat efek CBD dan THC pada 177 orang dengan nyeri terkait kanker yang tidak mengalami pemulihan dari obat penghilang rasa sakit.

Mereka yang diobati dengan ekstrak yang mengandung kedua senyawa mengalami pengurangan rasa sakit yang signifikan dibandingkan dengan mereka yang hanya menerima ekstrak THC (16).

CBD juga dapat membantu mengurangi mual dan muntah yang diinduksi kemoterapi, yang merupakan efek samping terkait kemoterapi yang paling umum bagi mereka yang menderita kanker (17).

Meskipun ada obat-obatan yang membantu dengan gejala-gejala yang menyusahkan ini, mereka kadang-kadang tidak efektif, membuat beberapa orang mencari alternatif.

Sebuah studi dari 16 orang yang menjalani kemoterapi menemukan bahwa kombinasi satu-ke-satu dari CBD dan THC yang diberikan melalui semprotan mulut mengurangi mual dan kemoterapi terkait kemoterapi lebih baik daripada pengobatan standar saja (18).

Beberapa tabung reaksi dan penelitian pada hewan bahkan menunjukkan bahwa CBD mungkin memiliki sifat antikanker. Sebagai contoh, satu studi tabung menemukan bahwa CBD terkonsentrasi menyebabkan kematian sel pada sel kanker payudara manusia (19).

Studi lain menunjukkan bahwa CBD menghambat penyebaran sel kanker payudara yang agresif pada tikus (20).

Namun, ini adalah uji tabung dan penelitian pada hewan, sehingga mereka hanya bisa menyarankan apa yang mungkin berhasil pada manusia. Diperlukan lebih banyak penelitian pada manusia sebelum kesimpulan dapat dibuat.

CANNABIS CURE CANCER
www.indocbdoil.info

Dapat Mengurangi Jerawat

Jerawat adalah kondisi kulit umum yang mempengaruhi lebih dari 9% populasi ().

Diperkirakan disebabkan oleh sejumlah faktor, termasuk genetika, bakteri, peradangan yang mendasari dan produksi berlebih sebum, sekresi berminyak yang dibuat oleh kelenjar sebaceous di kulit (, 23).

Berdasarkan studi ilmiah baru-baru ini, minyak CBD dapat membantu mengobati jerawat karena sifat anti-inflamasi dan kemampuan untuk mengurangi produksi sebum.

Satu penelitian tabung reaksi menemukan bahwa minyak CBD mencegah sel-sel kelenjar sebaceous dari mensekresi sebum berlebihan, mengerahkan tindakan anti-inflamasi dan mencegah aktivasi agen "pro-jerawat" seperti sitokin inflamasi ().

Studi lain memiliki temuan yang sama, menyimpulkan bahwa CBD mungkin menjadi cara yang efisien dan aman untuk mengobati jerawat, sebagian berkat kualitas anti-inflamasi yang luar biasa ().

Meskipun hasil ini menjanjikan, penelitian pada manusia yang mengeksplorasi efek CBD pada jerawat diperlukan.


Bermanfaat bagi Kesehatan Jantung

Penelitian terbaru telah menghubungkan CBD dengan beberapa manfaat untuk jantung dan sistem peredaran darah, termasuk kemampuan untuk menurunkan tekanan darah tinggi.

Tekanan darah tinggi dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi dari sejumlah kondisi kesehatan, termasuk stroke, serangan jantung, dan sindrom metabolik (33).

Studi menunjukkan bahwa CBD mungkin merupakan pengobatan alami dan efektif untuk tekanan darah tinggi.

Satu studi baru-baru ini memperlakukan 10 pria sehat dengan satu dosis 600 mg minyak CBD dan menemukan itu mengurangi tekanan darah istirahat, dibandingkan dengan plasebo.

Studi yang sama juga memberi para pria tes stres yang normalnya meningkatkan tekanan darah. Menariknya, dosis tunggal CBD membuat pria mengalami peningkatan tekanan darah yang lebih kecil dari biasanya dalam menanggapi tes ini (34).

Para peneliti telah menyarankan bahwa sifat mengurangi stres dan kecemasan dari CBD bertanggung jawab atas kemampuannya untuk membantu menurunkan tekanan darah.

Selain itu, beberapa penelitian pada hewan telah menunjukkan bahwa CBD dapat membantu mengurangi peradangan dan kematian sel yang terkait dengan penyakit jantung karena sifat antioksidan dan penurun stres yang kuat.

Sebagai contoh, satu studi menemukan bahwa pengobatan dengan CBD mengurangi stres oksidatif dan mencegah kerusakan jantung pada tikus diabetes dengan penyakit jantung.

Beberapa Manfaat Potensial Lainnya


CBD telah dipelajari untuk perannya dalam menangani sejumlah masalah kesehatan selain yang diuraikan di atas.

Meskipun diperlukan lebih banyak penelitian, CBD dianggap memberikan manfaat kesehatan berikut:

Efek antipsikotik: Studi menunjukkan bahwa CBD dapat membantu orang dengan skizofrenia dan gangguan mental lainnya dengan mengurangi gejala psikotik (36).

Pengobatan penyalahgunaan zat: CBD telah terbukti memodifikasi sirkuit di otak yang terkait dengan kecanduan narkoba. Pada tikus, CBD telah terbukti mengurangi ketergantungan morfin dan perilaku mencari heroin (37).

Efek anti-tumor: Dalam penelitian tabung dan hewan, CBD telah menunjukkan efek anti-tumor. Pada hewan, telah terbukti mencegah penyebaran kanker payudara, prostat, otak, usus besar dan paru-paru (38).

Pencegahan diabetes: Pada tikus diabetes, pengobatan dengan CBD mengurangi kejadian diabetes sebesar 56% dan secara signifikan mengurangi peradangan (39).



www.indocbdoil.info
HEMP STORE INDONESIA


Untuk yang mau rasain benefitnya dan mencari cbd oil untuk pengobatan bisa langsung
whatsapp 085812323082










Jumat, 18 Januari 2019

GANJA DAN KETAKUTAN KITA

ANTARA GANJA & KETAKUTAN KITA


Salam Damai,
Terima Kasih kpd Sang Maha Pencipta
Go green selalu


Add Friend Salah satu masalah terbesar manusia adalah ketakutan, dan ketakutan muncul dari ketidak-tahuan. ‘Ketakutan karena ketidak-tahuan’ sanggup membuat masyarakat menghancurkan harta mereka sendiri yang berharga. Mari mengambil contoh dari minyak kelapa.
Pada tahun 1980-an, Amerika secara resmi menuding minyak kelapa sebagai penyebab utama meningkatnya serangan jantung. Kampanye yang dimotori National Heart Saver Association itu sukses memaksa pemerintah melarang penggunaan minyak kelapa. Efeknya sampai Indonesia; Orba dengan gencar ‘menyarankan’ masyarakat agar menjauhi minyak kelapa.


Hari ini kita sadar, sektor kopra (kelapa) kita sekarat dihantam kampanye itu. Padahal, Indonesia sudah dikenal sebagai penghasil kopra terbaik sejak abad ke-12. Tahun 1851, Belanda ‘memanfaatkan’ skill pengolahan minyak kelapa Nusantara dalam wujud pabrik di Kebumen. Perkebunan dan pabrik kopra pernah menjadi tambang hidup rakyat dan negara.
Namun, kampanye internasional terbukti sanggup melumpuhkannya—beserta industri kretek, gula, garam, dll. Berselang waktu, komoditas-komoditas itu datang ke Indonesia sebagai barang impor. Ternyata ada pihak yang memproduksinya saat para pesaing hancur dihantam kampanyeMeski fakta-fakta ilmiah-kiwari tentang minyak kelapa (yang positif) mulai diangkat, tapi bangkit setelah babak belur memang susah.



Apakah semua itu konspirasi? Entahlah, tapi lihatlah bagaimana sebuah ‘ketakutan karena ketidak-tahuan’ bekerja mengandalkan kerjasama pengusaha dan penguasa. ‘Ketakutan karena ketidak-tahuan’ itu juga muncul pada ganja.
Ganja adalah komoditas yang mengalami penolakan hebat di berbagai negara. Namun, karena ganja sebagai komoditas berusia lebih muda, ganja mampu belajar dari pengalaman komoditas lain yang pernah dihancurkan dengan propaganda ‘ketakutan karena ketidak-tahuan’, sehingga ganja menolak dihancurkan. Banyak pihak yang melakukan studi atas ganja dan mendapat wawasan (dan kebenaran?) berbeda dari mainstream. Terdapat fakta ilmiah bahwa ganja bisa digunakan untuk medis dan industri.




Ganja, Sudut Pandang Lain

Ganja adalah tanaman dengan nama latin cannabis sativa. Banyak orang hanya (dan hanya mau) membayangkan ganja sebagai tumbuhan yang disedot untuk giting. Padahal, ganja telah memiliki ribuan tahun sejarah kebermanfaatan.

Ganja sudah berkembang sejak 12.000 tahun yang lalu; ia telah digunakan sebagai obat bius operasi pada 4000 SM; ia disebut dalam kitab pengobatan china tertua di dunia, Pen Tsao Ching, peninggalan Kaisar Shen Nung pada 2737 SM. Ganja juga disebut sebagai salah satu dari 5 tanaman suci “yang membuat manusia lepas dari kecemasan” dalam Atharva Veda (Hindu).
Ganja, di era pra-modern, digunakan untuk tujuan spiritual. Agama Hindu pada 1200 SM mengenal Bhang, minuman ganja, susu, dan gula untuk upacara Baisakhi Holi.

Taoisme abad pertama masehi menggunakan bibit ganja di pembakar dupa untuk memudahkan bermeditasi. Rastafara percaya ganja adalah pohon kehidupan yang meringankan nyeri haid. Efek psikoaktif ganja bekerja dengan cara yang sama seperti orgasme dalam ritual seks

Biarawan Sion: setengah detik orgasme adalah saat suci yang memungkinkan manusia melihat Tuhan.

Ganja sebenarnya dekat dengan peradaban kita. Kita menyebut pakaian sejenis kemeja dengan nama ‘hem’, yang berasal dari kata hemp(ganja). Kemeja pertama diperkenalkan di Indonesia memang berasal dari serat ganja. Serat ganja digunakan dalam pembuatan tali tambang kapal karena ketahannya pada air garam. Celana jeans “Levis” dikenal kuat karena menggunakan serat ganja. Serat ganja bahkan bisa menjadi bahan sepatu hingga parasut penerjun yang tahan sobek.

Hari ini penggunaan serat ganja berkembang pesat. Ia bisa digunakan sebagai bahan bangunan (batu-bata, genteng) yang fungsi insulatornya yang lebih baik dari beton. Serat ganja diakui sebagai alternatif terbaik plat body mobil atau pesawat, yang memberi performa lebih ringan dan murah. Bugaati, Veyron, BMW, Hyundai, dan Mercendes-Benz sudah menggunakan serat ganja untuk body-kit. Hemp-Basics di New Jersey,

Amerika telah sukses sejak 1991 memproduksi aksesoris, body care, tali-temali, tekstil, bahan celup, bahan bangunan, bahkan selang pemadam kebakaran, dengan kualitas terbaik.
Ganja yang kandungan THC-nya (tetrahydrocannabinol, zat penghasil euforia) di bawah 0,3% tidak memabukkan, sebaliknya, menghasilkan serat berharga. Itulah ‘ganja industri’ (Cannabis Sativa L.). Serat itulah yang digunakan sebagai bahan industri terbaik. Per hektar ladang ganja menghasilkan 250% lebih banyak serat daripada kapas.

Dengan begitu kita bisa bertanya-tanya, mengapa ganja industri berkembang di sebagian negara adidaya yang begitu gencar mengkampanyekan buruknya ganja? Apa alasan mereka mematikan aktivitas ganja apapun di berbagai belahan bumi, sembari memproduksi kebermanfaatan dari ganja industri di tanah mereka sendiri?

Mari kita lihat data: negara produsen ganja industri terbesar adalah Cina (79% total produksi dunia), disusul Perancis (15% total produksi). Inggris dan Jerman memproduksi hemp sejak 1990. Amerika memiliki undang-undang pelegalan ganja. Queensland mengizinkan ganja industri sejak 2002. Di Perancis, telah digunakan 11.000 hektar area pertanian ganja industri.
Di Rusia, ladang ganja industri seluas satu juta hektar. China telah memiliki 309 paten ganja (yang kebanyakan ganja medis), dan mengizinkan institusi swasta melakukan kajian resmi khasiat medis dan industri dari tanaman ganja, seperti Yunnan Industrial Hemp Inc.

Dunia kesehatan negara besar melaju berkat ganja medis. Mereka menemukan bahwa ganja tidak hanya mengandung THC, namun juga CBD (cannabidiol), zat yang nir-psikoaktif, namun dapat menekan emosi negatif manusia seperti cemas berlebih dan depresi. CBD itulah yang dikembangkan untuk memperbaiki kerusakan 48% saraf di entorhinal korteks akibat alkohol.



California Pacific Medical Centre memanfaatkan CBD untuk mematikan sel kangker supaya tidak menyebar. Inggris dengan Marijuana Centre-nya memanfaatkan CBD memberantas kelumpuhan, impotensi, diabetes, dan AIDS.



Pertanyaannya: mengapa Indonesia yang punya potensi besar memanfaatkan ganja, seperti buta dengan gencarnya langkah-langkah negara adidaya—yang menjadi sumber kampanye negatif tentang ganja, namun mendayagunakan ganja di saat yang sama—itu?

Ganja dan Industri Kertas Kita
Ganja bahkan berpotensi sangat signifikan bagi industri kertas. Tentunya tawaran ini kontekstual, mengingat belakangan ini marak kampanye negatif terhadap buku cetak yang dituduh secara semena-mena berkontribusi besar bagi penebangan hutan dan pengrusakan lingkungan. Bahkan klaim sebuah universitas sebagai green campus bisa dipertanyakan lantaran perpustakaannya mempunyai puluhan ribu eksemplar buku cetak.

Meskipun industri kertas telah menyatakan bahwa jatah hutan yang boleh mereka tebangi hanyalah 7,8% dari total luas hutan Indonesia (126,09 juta hektar), dan itupun disertai tanggung-jawab penanaman kembali dan pemeliharaan dengan melibatkan perkembangan teknologi canggih, ada baiknya serat ganja industri tetap diperkenalkan sebagai bahan dasar kertas.

Karena serat ganja industri jauh lebih efisien dan murah.
Banyak yang tidak tahu bahwa sampai tahun 1883, 75% kertas dunia dibuat dari serat ganja. Baru pada tahun 1900, semua koran dan sebagian besar buku cetak berbahan pohon kayu. USDA (United States Departement of Agriculture) menggambarkan bahwa di tahun 1916, satu hektar ganja bisa memproduksi bubur kertas sama banyaknya dengan empat hektar pohon kayu.

Tanaman ganja hanya perlu 1 musim saja (120 – 180 hari) untuk siap panen; tidak butuh pestisida dan herbisida; sebagai bahan kertas, tidak membutuhkan pemutih klorin yang menjadi limbah. Produk kertas berbahan serat ganja lebih kuat dan indah.
Namun tentu saja, tawaran itu bersifat utopis. Tawaran itu harus berhadapan dengan negara dan masyarakat yang masih terjebak dalam ‘ketakutan karena ketidak-tahuan’.

Apakah tulisan ini menyokong industri kertas? Apakah tulisan ini membela ganja? Tidak keduanya. Sejauh yang penulis tahu, tulisan ini berkepentingan satu hal: mengajak kita menolak takut pada ketidak-tahuan.

Banyak tulisan yang mengupas hubungan kertas dan peradaban, dan menegaskan kertas sebagai medium penyimpan dan penyebar wacana yang amat berjasa ribuan tahun.

Namun, era melimpahnya kertas hari ini belum juga mampu membuat kita menjadi masyarakat yang menolak takut atas ketidaktahuan.

Jangan sampai kita bicara kebangkitan peradaban namun lupa esensi kebangkitan itu sendiri: kegigihan dan keberanian untuk menggali, menguji, dan menguak kebenaran. Hubungan antara ganja, kertas, dan ketakutan-ketakutan yang kita dapatkan dari tulisan ini, cukuplah menjadi pelajaran berharga, bahwa ketidak-tahuan membuat kita miskin peradaban meski kertas ilmu begitu melimpah



Salam senyum.
Orang yg bodoh itu orang yang tidak mau membaca

Kamis, 27 Desember 2018

THC DAN CBD MAMPU OBATI KANKER

BIARKAN GANJA MENGOBATIMU

Banyak penelitian yang menemukan bahwa cannabinoid yang terdapat di dalam ganja dapat memperlambat pertumbuhan kanker, menghambat pembentukan pembuluh darah baru yang memberi makan tumor, dan membantu mengatasi nyeri, lelah, mual, dan berbagai efek samping lainnya.
Sebuah penelitian lainnya menemukan bahwa banyak sel kanker yang mati saat terkena paparan tetrahidrocannabinol (THC), yang merupakan zat psikoaktif di dalam ganja. Para ahli lainnya pun mengatakan bahwa cannabinoid yang terdapat di dalam ganja selain berfungsi untuk mengatasi gejala kanker seperti mual, nyeri, hilangnya nafsu makan, dan lelah juga memiliki sifat anti tumor.
Selain dapat membunuh sel kanker secara langsung, THC juga dapat mengurangi kemampuan penyebaran sel kanker. Keunggulan lainnya dari THC adalah bahwa THC mampu membunuh sel kanker tanpa membunuh sel normal.
Berbagai jenis kanker telah terbukti mengalami perbaikan setelah terpapar oleh THC, mulai dari kanker otak (glioma), kanker paru, kanker darah (leukemia), dan kanker payudara. Pada kanker otak, THC telah terbukti dapat membunuh sel kanker dan menghambat pembentukan pembuluh darah baru, Pada kanker paru, THC telah terbukti dapat menghambat penyebaran kanker. Pada leukemia, THC menyebabkan terjadinya kematian sel kanker (apoptosis). Pada kanker payudara, THC telah terbukti dapat menghambat proliferasi, metastasis, dan pertumbuhan sel kanker.
Cannabinoid yang terdapat di dalam ganja dapat membunuh sel-sel kanker dan menghancurkan tumor ganas dengan mengganti fungsi gen ID-1 yang merupakan protein yang berperan penting sebagai konduktor sel kanker.
Gen ID-1 ini aktif selama perkembangan manusia saat embrio, yang kemudian berhenti bekerja. Pada beberapa kasus kanker payudara dan berbagai kanker metastatik lainnya, gen ID-1 ini kembali aktif dan menyebabkan pertumbuhan sel ganas.
Sekarang ini banyak peneliti yang sedang mencoba menggunakan THC dan cannabinoid sebagai terapi kombinasi dalam obat kemoterapi yang dapat membunuh sel kanker dan tidak ikut membunuh sel sehat, sehingga berbagai efek samping obat kemoterapi pun dapat berkurang
INI BUKAN SEKEDAR TEORI TETAPI FAKTA RISET MEDIS
Untuk info silahkan hubungi admin
Anda ahli medis..??? Silahkan buktikan.

OBAT KANKER SANGAT MUJARAB

OBAT KANKER PALING AMAN
Pengganti kemoterapi

Seorang perempuan dari Birmingham berbagi kisah kesembuhan dirinya berkat ganja. Dee Mani, sengaja memilih ganja yang telah dijadikan minyak untuk melawan kanker payudara yang idapnya.


Alih-alih melakukan kemoterapi, wanita berumur 44 tahun ini lebih memilih mengonsumsi minyak ganja, setelah membaca obat kanker alami di Internet. Alasan Deememilih melakukan pengobatan ini adalah karena rasa takut melakukan kemoterapi, menurutnya pengobatan kanker dengan kemoterapi justru akan menyebabkan meninggal dunia.
Melansir dari Natural News, Dee mengonsumsi satu kapsul sebelum tidur. Empat bulan setelah didiagnosis, kankernya berkurang secara signifikan. Dokternya memberitahu bahwa kankernya telah hilang di lima bulan, setelah dia mengonsumsi minyak ganja.
Dee Mani mengatakan, dia berencana untuk melanjutkan konsumsi obat itu selama hidupnya. Diklaim, bahwa obat itu bisa membantunya mengatasi masalah insomnia, alergi debu, dan nyeri punggung karena terpeleset. Selain itu, dia mengubah pola makan dan melakukan meditasi.







Pengobatan dengan ganja memang masih dianggap ilegal. Bahkan di Indonesia sendiri, manfaat ganja untuk penyembuhan masih menjadi perdebatan di berbagai pihak. Masih ingat dengan kasus yang menjerat Fidelis? Ia nekat menanam ganja di rumahnya untuk pengobatan istrinya yang mengidap syringomyelia. Fidelis menggunakan ekstak ganja untuk mengurangi rasa sakit istrinya, Yeni Riawati.
Selain Fidelis, seorang anak di Utah bernama Landon Riddle menolak makan dan muntah beberapa kali dalam sehari, setelah melakukan kemoterapi. Keluarganya pergi ke Colorado dan membeli ganja di sana. Dalam beberapa hari, muntahnya berkurang, nafsu makannya kembali, dan dia menunjukkan tanda-tanda penyembuhan dari kankernya.
Hal serupa juga dialami David Hibbit, dia memutuskan mengkonsumsi ganja usai pengobatan kanker kolon yang diidapnya tak berhasil. Sebelum memilih ganja, sebelumnya dia sempat melakukan pengobatan kemoterapi, radiasi dan pembedahan demi bisa menyembuhkan penyakitnya. Namun nahas, semua upaya yang dilakukannya gagal.
Meski telah terbukti bahwa ganja bisa menyembuhkan berbagai penyakit, namun sayangnya pengobatan tersebut masih belum diterima banyak orang. Nah, bagaimana menurutmu?
Kanker hanyalah konspirasi dunia. Silahkan cek di youtube tentang konspirasi kanker.
Untuk yang ingin sekedar konsultasi kanker dan ganja silahkan ke admin. Semoga ada sebuah solusi untuk yg menderita kanker.

Salam Damai selalu
Semoga Selalu dan dalam lindungannya
4.20

Rabu, 26 Desember 2018

SEJARAH GANJA MENGAPA ILEGAL

MENGAPA GANJA ILEGAL DAN DI MUSUHI

manusia paling bodoh adalah manusia yang paling malas untuk membaca.

Sebelum ada larangan ketat terhadap penanaman ganja, di Aceh daun ganja menjadi komponen sayur dan umum disajikan.
Bagi penggunanya, daun ganja kering dibakar dan dihisap seperti rokok, dan bisa juga dihisap dengan alat khusus bertabung yang disebut bong.
Juga gembar-gembor pemerintah yang seolah memiliki dasar kuat menerapkan dogma bahwa pelarangan terkait bertujuan untuk melindungi masyarakat dari “bahaya” yang tidak pernah terbukti secara gamblang.
Tak ayal gembar-gembor banyak pihak anti-narkoba ini berhasil menyembunyikan fakta-fakta ganja di balik kemasan informasi yang disebarkan oleh konspirasi ber-agenda.
Sudah saatnya semua ketahui, bahwa fakta sesungguhnya ternyata memiliki gambaran cerita yang bertolak belakang. Fakta-fakta terkait agenda konspirasi dan unsur-unsur rasisme, ketakutan, perlindungan profit raksasa industri, “Yellow journalism, keserakahan serta karir perseorangan (pada masanya) dibalik pelarangan akan (sekali lagi) penulis ulas dalam beberapa paragraf berikut:
Semenjak manusia mulai mencatatkan segala sesuatu sebagai sejarah, ganja tidak hanya legal dalam status hukum, tetapi juga tingkat pemanfaatan yang sangat besar dalam hampir segala aspek menunjukkan betapa tumbuhan ini pernah sangat penting fungsinya dalam kehidupan.

Ganja sebagai tumbuhan multi-fungsi juga bukanlah temuan baru mengingat ribuan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dijuluki “anak kemaren sore”
Faktanya status ilegal ganjalah yang lebih pantas mendapat julukan “bau kencur”, mengingat presentasi kurun waktu pelarangan tidak sampai 1% dari total masa pemanfaatan yang sudah ribuan tahun.
Ganja secara utuh telah dimanfaatkan sejak lama untuk berbagai kebutuhan seperti kain sebagai sandang, tepung dan minyak untuk pangan, temali dan lainnya untuk industri, sampai pemanfaatan bunga untuk medis hingga kebutuhan spiritual keagamaan.
Sejarah juga menyatakan bahwa ganja adalah tumbuhan tertua yang manusia gunakan untuk kebutuhan sandang (setelah kulit hewan).
Fakta-fakta seperti ini dan informasi belakangan sedikit memberikan kebingungan publik setelah pada awal abad ke-16 Amerika memperkenalkan tumbuhan ini beserta himbauan untuk memanfaatkannya secara massal, dan kemudian menuai kontroversi perihal penggunaannya untuk rekreasional di awal abad 19.
Undang-undang awal yang mengatur hal-hal terkait ganja tercatat di Amerika pada tahun 1619.
Undang-undang tersebut terutama mengatur dan menghimbau para petaninya untuk serentak menanam ganja. Hukum terkait terus berkembang dalam periode 200 tahun setelah itu dan terkesan lebih mengharuskan penanaman besar-besaran.
Seperti tercatat pada tahun 1763-1767 di Virginia, siapapun bisa terkena hukuman pidana dan dipenjarakan untuk tidak menanam ganja. Ya, pernah sepenting itu tumbuhan ganja untuk sebuah peradaban, sampai pada akhirnya diawal abad 19 semua tentang ganja seolah terdiskriminasi.
Secara lebih terperinci, semua berawal ketika terbukanya celah di bidang pertanian, khususnya dibagian barat Amerika.
Ketika itu tercatat awal tahun 1900-an, ketika pecahnya revolusi Meksiko dan banyak masuknya warga Meksiko ke Amerika, yang secara tidak langsung menimbulkan perang dingin antara petani kecil dan penguasa ladang-ladang besar (yang tak lagi memakai jasa petani lokal dan mengganti mereka dengan buruh Meksiko berupah jauh lebih rendah).
Memanfaatkan kebiasaan buruh-buruh Meksiko dalam mengkonsumsi ganja sebagai bahan rekreasi, pihak-pihak berkepentingan pertama kali mengkambing-hitamkan ganja sebagai sesuatu yang buruk.
Hal ini kontan diikuti oleh pelarangan di beberapa kota di Amerika, seperti di Wyoming (1915), Texas (1919), Iowa, Nevada, Oregon, Washington, and Arkansas (1923), and Nebraska (1927).
Sebesar itu juga ternyata ketakutan para konspirator terhadap ganja sampai sering terdengar di tahun 1927 kata-kata seperti yang terucap dari senator Texas
“All Mexicans are crazy, and this stuff (ganja) is what makes them crazy”.
Di bagian timur Amerika, diskriminasi terhadap ganja pun kian terasa dengan nuansa yang berbeda. Masalah seolah dibuat-buat dan ditujukan kepada kombinasi “Latin Americans” dengan “black jazz musicians”.
Ganja dan musik jazz datang dari New Orleans ke Chicago, kemudian merambah ke Harlem dimana ganja menjadi bagian tak terpisahkan dengan hits-hits kulit hitam (Louis Armstrong “Muggles”, “That Funny Reefer Man” Cab calloways, Fats Waller Viper’s Drag).
Sekali lagi diskriminasi terhadap ganja sangat pekat tercium bersamaan dengan rasisme terhadap kulit hitam.
Seperti tertulis dalam sebuah koran tahun 1934:
“Marijuana influences Negroes to look at white people in the eye, step on white men’s shadows and look at a white woman twice”.Memanfaatkan kebiasaan buruh-buruh Meksiko dalam mengkonsumsi ganja sebagai bahan rekreasi, pihak-pihak berkepentingan pertama kali mengkambing-hitamkan ganja sebagai sesuatu yang buruk.
Hal ini kontan diikuti oleh pelarangan di beberapa kota di Amerika, seperti di Wyoming (1915), Texas (1919), Iowa, Nevada, Oregon, Washington, and Arkansas (1923), and Nebraska (1927).
Sebesar itu juga ternyata ketakutan para konspirator terhadap ganja sampai sering terdengar di tahun 1927 kata-kata seperti yang terucap dari senator Texas
“All Mexicans are crazy, and this stuff (ganja) is what makes them crazy”.
Di bagian timur Amerika, diskriminasi terhadap ganja pun kian terasa dengan nuansa yang berbeda. Masalah seolah dibuat-buat dan ditujukan kepada kombinasi “Latin Americans” dengan “black jazz musicians”.
Ganja dan musik jazz datang dari New Orleans ke Chicago, kemudian merambah ke Harlem dimana ganja menjadi bagian tak terpisahkan dengan hits-hits kulit hitam (Louis Armstrong “Muggles”, “That Funny Reefer Man” Cab calloways, Fats Waller Viper’s Drag).
Sekali lagi diskriminasi terhadap ganja sangat pekat tercium bersamaan dengan rasisme terhadap kulit hitam.
Seperti tertulis dalam sebuah koran tahun 1934:
“Marijuana influences Negroes to look at white people in the eye, step on white men’s shadows and look at a white woman twice”.

 Begitulah kurang lebih deretan peristiwa yang secara tidak langsung menjadi dasar pelarangan ganja di Amerika.
Setelah sebelumnya, tahun 1914 pemerintah federal Amerika meloloskan “The Harrison Act” undang-undang/tax untuk opium dan kokain.
Dalam Harrison Act ini, segala bentuk penggunaan opium dan kokain dikenakan tax untuk legalitas, sementara para pelanggar tax mendapatkan hukuman denda atau penjara.
Hingga akhirnya terlahir The Federal Bureau of Narcotics pada tahun 1930 dibawah kuasa Harry J. Anslinger. Disinilah, perang terhadap ganja resmi diawali.
Harry J. Anslinger, sosok picik penuh ambisi yang meng-otaki berdirinya divisi baru di bawah Department of Treasury, dan memanfaatkan badan federal ini sebagai peluang karir pribadi.
Sebuah badan pemerintah dengan kuasa penuh menangani segala bentuk narkotika, dan berwewenang menyuguhkan solusi atas segala masalah yang bisa ditetapkan seenaknya sendiri.
Tak membutuhkan waktu lama, Anslinger pun menyadari bahwa opium dan kokain saja tidaklah cukup dijadikan ajang mempercepat perkembangan badan yang dikepalainya, sehingga ganja merupakan bulan-bulanan tepat bagi Anslinger.
line up

“Segala upaya Harry J. Anslinger dicurahkan untuk secepat mungkin menjadikan ganja sebagai sesuatu yang lebih buruk dari opium dan memberikan gelar ilegal atasnya.”

line down
Tak lepas dari perhatiannya, fenomena rasisme dan kekerasan serta merta disangkut-pautkan dengan tumbuhan ini untuk mendapatkan perhatian bangsanya atas rekayasa-rekayasa yang dbuatnya sendiri.
Berikut beberapa rekayasa dalam kata karya Anslinger yang mencerminkan sangat besarnya kebencian dia dan sekutu-sekutunya (di artikel sebelumnya pernah dibahas hubungan dekat Anslinger dengan Hearst, Dupont, dan Melon) terhadap ganja:
  • “… the primary reason to outlaw marijuana is its effect on the degenerate races.”
  • “Marijuana is an addictive drug which produces in its users insanity, criminality, and death.”
  • “Reefer makes darkies think they’re as good as white man.”
  • “Marijuana leads to pacifism and communist brainwashing.”
  • “You smoke a joint and you’re likely to kill your brother.”
  • “Marijuana is the most violence-causing drug in the history of mankind.”
Ya, sebesar kebohongan-kebohongan itu pula kebencian Anslinger terhadap ganja yang tak henti-hentinya dia gembar-gemborkan.
Kampanye mengkambinghitamkan ganja oleh Anslinger ini serta merta mendapatkan segala dukungan yang diperllukan dari pihak-pihak yang tak kalah kuat dari FBN. Seperti salah satu bantuan yang datang dari William Randolf Hearst, penguasa media cetak saat itu. Hearst memiliki segudang alasan untuk membanatu Anslinger dalam kampenye anti ganjanya.
Pertama, dia sangat membenci orang-orang Meksiko. Kedua, membuat berita berisi kebohongan terkait warga meksiko dan ganja “The devil” sebagai sumber malapetaka membuat koran-korannya laris, dan membuatnya tetap kaya raya.
Utamanya, dia telah sejak lama berinvestasi besaar-besaran dalam kayu hutan untuk industri kertas dan media cetaknya, dan tidak ingin melihat perkembangan industri kertas dari serat ganja sebagai kompetitornya. Berikut beberapa contoh kebohongan medianya:
Dikutip dari San Fransisco Examiner:
line up
“Marihuana makes fiends of boys in thirty days — Hashish goads users to bloodlust. By the tons it is coming into this country — the deadly, dreadful poison that racks and tears not only the body, but the very heart and soul of every human being who once becomes a slave to it in any of its cruel and devastating forms…. Marihuana is a short cut to the insane asylum. Smoke marihuana cigarettes for a month and what was once your brain will be nothing but a storehouse of horrid specters. Hasheesh makes a murderer who kills for the love of killing out of the mildest mannered man who ever laughed at the idea that any habit could ever get him….”
line down
Dan satu lagi dari dari koran yang terbit secara nasional:
line up
“Users of marijuana become STIMULATED as they inhale the drug and are LIKELY TO DO ANYTHING. Most crimes of violence in this section, especially in country districts are laid to users of that drug. Was it marijuana, the new Mexican drug, that nerved the murderous arm of Clara Phillips when she hammered out her victim’s life in Los Angeles?… THREE-FOURTHS OF THE CRIMES of violence in this country today are committed by DOPE SLAVES — that is a matter of cold record.”
line down
Berita-berita miring tersebut tercetak tanpa bukti dan sumber yang kuat, dan senantiasa tercetak di halaman utama dalam periode yang lama.
Seolah membenarkan pribahasa “The more the merrier“, Anslinger dan Hearst juga serta merta mendapatkan dukungan dari pihak raksasa lain, kali ini datang dari rajanya industri kimia Dupont. Selain juga dukungan dari perusahaan-perusahaan farmasi yang tak kalah berkuasa.
Dupont, pada saat itu baru saja mempatenkan nylon, dan kerakusan membuat mereka menutup segala kemungkinan ganja menjadi saingan. Sama halnya dengan industri-industri farmasi, mereka tidak mau juga pasarnya menanam obat-obatan sendiri dan berhenti membeli produk mereka.
Akhirnya, semua konspirasi di atas berujung kerucut kepada akar semua pelarangan ganja yang berkedok “The Marijuana Tax Act of 1937“, yang telah secara terencana dipersiapkan oleh konspirasi Anslinger dan kawan-kawan.
Dari sini jugalah nama besar Ganja/Cannabis/Hemp seolah dilupakan dan ditiadakan, untuk sebuah julukan baru penuh cela Marijuana.
Segala bentuk pemanfaatan tumbuhan ganja (secara utuh) yang dulu pernah sangat disarankan seolah tak pernah terjadi di bawah kungkungan julukan barunya, marijuana. Sampai detik ini.
Hari-Hari Terakhir Ganja Bergelar Legal
Peristiwa besar apa kiranya yang membuat jangka waktu selama itu seolah tak pernah terjadi? Sejak kapan pula ganja menyandang status hukum ilegal?
Bersumber dari buku “The Emperor Wears No Clothes” karya mendiang Jack Herer, tertulislah tulisan rangkum berikut ini:
Berawal dari konspirasi raksasa-raksasa industri Amerika di akhir abad 19, gejala intimidasi terhadap ganja mulai tercium ketika Dupont(salah satu raksasa industri saat itu), memonopoli industri bahan peledak berbahan “Hemp Hurds” dengan cara membeli dan mengkonsolidasikan beberapa perusahaan kecil yang sedang berkembang. Usaha ini mereka lakukan setelah menyadari potensi ganja dan pasarnya, bahkan dalam industri dinamit.
Hasilnya, Dupont pun berjaya di industri ini dan menjadi perusahaan terbesar yang memasok 40% stock amunisi kepada sekutu-sekutunya saat perang dunia pertama.
Hal ini juga lantas mengisi berita di Popular Mechanics ’38 yang menyatakan “Thousands of tons of hemp hurds are used every year by one large powder company for the manufacture of dynamite and TNT.
Tidak berhenti di situ, pada akhir tahun 1920 Dupont melanjutkan konsolidasi ke arah pemerintah federal Amerika dan berhasil menguasai sebagian besar industri textile dalam negeri.
Berawal dari monopoli ini, para peneliti dan ahli kimia Dupont menemukan potensi kandungan selulosa ganja sesungguhnya jauh di atas pengetahuan umum sebelumnya.
Pada saat itu tidak ada yang lebih paham dari para peneliti Dupont, bahwa 77% bagian pohon ganja adalah sumber selulosa (bahan kertas, plastik, rayon) alami terbaik.
Tak heran jika pada pertengahan tahun 1930, ditemukannya teknologi mekanik baru pemisah serat ganja dan mesin pemisah selulosa dengan harga terjangkau oleh petani/industri kecil ganja membuat Dupont serta raksasa industri lainnya kebakaran jenggot.
Terlebih pada saat yang sama di tahun 1937, Dupont baru saja mematenkan proses produksi plastik berbahan minyak bumi dan batubara sebagai bisnis mereka. Juga industri sulfat kimia baru untuk memproses pembuatan kertas dari kayu hutan.
Kemajuan industri-industri kecil ganja ini sangat mungkin merugikan 80% bisnis kertas, plastik sintetis, dan minyak bumi raksasa-raksasa ini.
Bukan hanya Dupont yang merasakan pentingnya ganja dieliminasi dari lahan industri mereka, Andrew Mellon dari The Mellon Bank of Pittsburgh sebagai banker di belakang Dupont dan William Randolph Hearst dari Hearst Paper Manufacturingmerasakan ketakutan yang sama
Terlebih Randolph Hearst, yang sebenarnya menyadari ancaman dari ganja terhadap industri kertasnya lebih awal. Selain pabrik kertas dari kayu, Hearst, yang juga mengepalai perusahaan percetakan dan penerbit koran sudah melakukan intimidasi terhadap ganja sejak 1898.
Dimulai setelah ditemukannya 800.000 hektar ladang ganja di area hutan kayu miliknya di Meksiko. Nyaris 3 dekade setelahnya, Hearst menjadikan ganja sebagai kambing hitam di setiap halaman utama korannya.
Salah satu contohnya adalah, ketika Hearst mengklaim bahwa hampir seluruh kekerasan, perkosaan oleh kulit hitam terhadap kulit putih dilatarbelakangi oleh ganja.
Hasilnya, ratusan ribu kulit hitam dan orang-orang meksiko dipenjara karena isu ini.
Korannya jugalah yang mempopulerkan kata “Marijuana” sebagai kutukan terhadap ganja melalui pengulangan-pengulangan berjangka panjang di setiap halaman utamanya, sehingga berhasil menghapuskan kata “Hemp” dan nama ilmiah asli ganja “Cannabis“.
Berdasarkan ketakutan terhadap ancaman serupa inilah akhirnya diadakan pertemuan rahasia pertama oleh para “mandor” industri dan banker-bankernya tahun 1931 untuk menyatukan kekuatan melawan ganja, “The environmentally-sane natural source“. Pertemuan ini dihadiri oleh Dupont, Hearst, dan Andrew Mellon yang saat itu memiliki kuasa di pemerintahan federal (Secretary of The Treasury).
Hasil dari konsolidasi antara para raksasa ini adalah diangkatnya Harry J. Anslinger (keponakan ipar Andrew Mellon) sebagai kepala Federal Bureau of Narcotic and Dangerous Drug (FBNDD) yang pada saat itu mendadak dibentuk.
Semenjak saat itu sampai 1937, banyak pertemuan rahasia dilakukan terkait rancangan undang-undang untuk ganja, sampai akhirnya “Marijuana Tax Act” diresmikan pemerintah Amerika pada tanggal 2 Agustus 1937.
Dalam masa jabatannya ini (31 tahun), Anslinger sangat gencar menyebarkan propaganda buruk tentang ganja atas nama marijuana (Harry Anslinger’s Personal Gore Files).
Banyak pihak-pihak independent seperti ilmuan-ilmuan universitas membantah tudingan-tudingan buruk anslinger yang tidak beralasan.
Alhasil, undang-undang baru yang melarang segala penelitian tentang ganja (tanpa seijin pribadi Anslinger) dikeluarkan sebagai reaksi sangkala-sangkalan itu.
Semakin dalam terkubur sejak saat itu nama Cannabis atau Hemp dibawah julukan barunya yang penuh cemar, Marijuana.
Dan terus berlanjut hingga kini sandangan hukum ganja semenjak diberlakukannya Marijuana Tax Act 1937.
Begitulah kiranya rangkuman hari-hari terakhir ganja bergelar LEGAL… lalu menjadi ILLEGAL.
Untuk bacaan selengkapnya, silakan dibaca di The Emperor Wears No Clothes chapter ke-4, halaman 25-39 dan juga mengenai Marijuana Tax Acthttp://en.wikipedia.org/wiki/Marihuana_Tax_Act_of_1937
* Awalnya, Marijuana Tax Act ini tidak sepenuhnya mengilegalkan, dengan mengenakan pajak U$.1 per ounce, dan U$.100 per ounce jika pemiliknya tidak teregistrasi. Faktanya, banyak penyelewengan hukum yang seringkali menyebabkan hukuman penjara sampai 5 tahun atau denda yang berlipat-lipat hingga U$.2000. Lalu apa bedanya dengan sekarang?
Legalisasi Ganja Bisa Untuk Eksperimen Kualitas Kesehatan
Selama ini di berbagai negara terjadi perdebatan mengenai legalisasi ganja. Banyak kekhawatiran tentang efek negatif ganja, tapi di sisi lain banyak yang menyatakan ganja baik bagi kesehatan.
Para ahli mengatakan, ada beberapa dampak negatif saat ganja digunakan untuk kesenangan atau non-medis. Namun kekhawatiran itu dianggap tak memiliki cukup bukti.
Terlepas dari segala macam perdebatan, para ahli menilai legalisasi ganja di Colorado dan Washington di Amerika Serikat bisa digunakan untuk eksperimen mengenai kualitas kesehatan masyarakat. Dengan demikian para peneliti bisa mengumpulkan informasi akan kerugian atau manfaat dari diberlakukannya legalisasi ganja di AS.
Pada bulan Januari 2014, undang-undang legalisasi ganja itu sudah disahkan di dua negara bagian tersebut. Dengan aturan ini, orang dewasa berusia di atas 21 tahun bisa memiliki dan membeli ganja seberat 1 ons untuk kesenangan atau fungsi non-medis.
Sebenarnya, hingga sekarang belum banyak penelitian dari topik kerugian atau manfaat dari legalisasi ganja. Bahkan ini berlaku juga di negara-negara yang sudah melegalkan ganja.
“Ini adalah pertanyaan empiris, dan akhirnya kita akan memiliki data untuk menilai itu,” kata Rosalie Liccardo Pacula, Wakil Direktur Research Center Drug Policy, di RAND Corporation, dilansir dari Livescience.
Menurut Pacula, legalisasi ganja berpotensi memiliki dampak negatif. Ganja disebut Pacula bisa merusak memori, koordinasi, dan persepsi, dan dapat mempengaruhi kemampuan mengemudi. Ini tentu membahayakan keselamatan publik.
Beberapa studi juga telah mengungkap, mengemudi setelah beberapa jam menggunakan ganja berpotensi menyebabkan kecelakaan hingga dua kali lipat.
Penelitian ini dilakukan oleh Guosha Li, epidemiologist di Columbia University Mailman School of Public Health, yang melakukan penelitian penggunaan ganja saat mengemudi.
Penggunaan ganja dalam waktu lama juga dapat meningkatkan risiko kerusakan mental. Baru-baru ini ada studi yang menemukan hubungan antara penggunaan ganja di masa remaja, akan berdampak terhadap IQ yang rendah di masa depan.
Meski begitu, banyak juga ilmuwan yang mengatakan ganja memiliki dampak positif bagi kesehatan. Itu sebabnya ganja masih bisa digunakan untuk kepentingan medis di sejumlah negara atau negara bagian yang belum lakukan legalisasi ganja.
Misalnya saja, mengutip laman Bussiness Insider, psikiater Tod H Mikuriya telah berikan rekomendasi kepada pasiennya untuk terapi menggunakan ganja sejak tahun 1960an.
Menurut Mikuriya, lebih dari 200 penyakit bisa diatasi dengan terapi ganja. Di antaranya dalah insomnia, gagap, dan premenstrual syndrome (PMS) bahkan penyakit kankerMenurut Pacula, legalisasi ganja berpotensi memiliki dampak negatif. Ganja disebut Pacula bisa merusak memori, koordinasi, dan persepsi, dan dapat mempengaruhi kemampuan mengemudi. Ini tentu membahayakan keselamatan publik.
Beberapa studi juga telah mengungkap, mengemudi setelah beberapa jam menggunakan ganja berpotensi menyebabkan kecelakaan hingga dua kali lipat.
Penelitian ini dilakukan oleh Guosha Li, epidemiologist di Columbia University Mailman School of Public Health, yang melakukan penelitian penggunaan ganja saat mengemudi.
Penggunaan ganja dalam waktu lama juga dapat meningkatkan risiko kerusakan mental. Baru-baru ini ada studi yang menemukan hubungan antara penggunaan ganja di masa remaja, akan berdampak terhadap IQ yang rendah di masa depan.
Meski begitu, banyak juga ilmuwan yang mengatakan ganja memiliki dampak positif bagi kesehatan. Itu sebabnya ganja masih bisa digunakan untuk kepentingan medis di sejumlah negara atau negara bagian yang belum lakukan legalisasi ganja
Misalnya saja, mengutip laman Bussiness Insider, psikiater Tod H Mikuriya telah berikan rekomendasi kepada pasiennya untuk terapi menggunakan ganja sejak tahun 1960an.

Bahkan National Cancer Institute sependapat dengan Mikuriya. Lembaga itu mengatakan ganja bisa digunakan untuk mengatasi efek samping dari kemoterapi, mencegah nausea (mual) dan muntah, meningkatkan nafsu makan, mengurangi rasa sakit, dan meningkatkan kualitas tidur.

Bussiness Insider pun menyebut manfaat lain ganja bagi kesehatan. Di antaranya adalah mencegah kebutaan akibat glukoma, mengendalikan penyakit epilepsi, dan mengurangi rasa cemas berlebihan. Adapun zat kimia cannabidiol di ganja dianggap bisa mencegah penyebaran kanker, dan zat aktif THC bisa mengurangi dampak penyakit Alzheimer.

Variabel Lain

Menurut Pacula berbagai studi yang mempelajari efek negatif dari ganja itu dilakukan pada populasi tertentu. Obyek penelitian seringkali merupakan orang-orang yang cenderung menggunakan obat-obat terlarang, dan bukan populasi secara keseluruhan.


Ia menambahkan, efek yang dihasilkan pada kesehatan masyarakat tergantung seberapa sering menggunakan ganja

Faktor lain yang patut dipertimbangkan untuk jadi variabel penelitian adalah penggunaan yang dilakukan secara bersamaan dengan alkohol (yang berpotensi meningkatkan kerusakan), potensi obat-obatan terlarang lain, dan jumlah remaja yang menggunakan.

Pacula pun beralasan, sangat masuk akal jika UU legalisasi ganja akan meningkatkan penggunaan ganja oleh remaja, meski belum jelas seberapa besar peningkatan itu.

Legalisasi ganja juga dapat memiliki dampak jatuhnya harga obat-obatan terlarang. Ini tentu berpotensi meningkatkan penggunaan obat-obatan terlarang, terutama di kalangan remaja.

Variabel lain yang belum diketahui adalah potensi obat-obatan terlarang lain untuk digunakan dalam fungsi non-medis. Potensi ini dapat bermacam-macam, dan potensi yang paling berbahaya adalah kerusakan mental.

“Ketika kita memiliki banyak pengetahuan tentang itu, maka akan bisa diketahui apakah tingkat kesehatan masyarakat itu akan bertambah baik atau makin berkurang,” ucap Pacula. (adi/vivanews)

Ganja Untuk Pengobatan Telah Legal di 18 Negara Bagian di Amerika Serikat, Termasuk Washington DC dan Colorado


Kepemilikan mariyuana akan dilegalkan di negara bagian Washington, satu bulan setelah para pemilih mengambil opsi tersebut.

Mulai Kamis (6/12/2012) tengah malam waktu Pantai Barat AS (15.00 WIB), siapa saja yang berusia 21 tahun ke atas dapat membawa hingga 28,4 gram kanabis, meskipun menghisapnya di muka umum tetap merupakan pelanggaran kejahatan.

Ganja sudah dinyatakan legal untuk keperluan medis di negara itu sejak 1998.

Washington dan Colorado memilih untuk melegalkan mariyuana, meski hukum federal AS tetap menyatakan hal itu sebagai kejahatan. Namun, tidak ada tempat untuk membeli mariyuana di negara bagian itu selama satu tahun.


Hingga saat ini juga masih belum jelas bagaimana aparat akan menangani liberalisasi UU Narkotika di Washington dan Colorado.

Meski hukum AS secara keseluruhan masih melarang penggunaan ganja, banyak yang menggelar pesta ganja.

Ratusan orang berkumpul pada tengah malam di Space Needle, menara futuristik yang mendominasi langit malam. Mereka merayakan ‘kemerdekaan’ baru ini.

“Akhirnya anda bisa merokok ganja tanpa berpikir hal tersebut tindakan kriminal. Tak ada bedanya seperti minum bir, tak lagi dikatakan berbahaya,” ujar seorang perokok ganja, Calvin Lee.

Hal ini menyusul referendum pada 6 November lalu untuk melegalkan konsumsi ganja pribadi untuk tujuan rekreasi.

Federal


Setiap keputusan untuk menyerang negara bagian dengan hukum narkotika liberal dapat mempengaruhi rencana Washington untuk menaikkan pendapatan pajak dari pasar mariyuana yang berlisensi dan terkontrol. “Kami berada di lautan bebas,” kata Jaksa Wilayah Seattle City Pete Holmes dalam sebuah konferensi pers, Rabu


“Kami berjuang dengan larangan ini selama satu abad,” kata Holmes menurut Seattle Post-Intelligencer.

“Akan butuh waktu untuk menggantikan sistem yang teratur dan berlisensi.”

Pendukung undang-undang Washington bersikeras mereka tidak menyarankan atau mensyaratkan siapa pun untuk melanggar hukum federal.

Namun, seorang jaksa federal regional di negara bagian itu, Jenny Durkan, mengatakan pada Post-Intelligencer bahwa “menanam, menjual, atau memiliki mariyuana dalam jumlah berapa pun tetap ilegal di bawah hukum federal,” tanpa mempedulikan hukum negara bagian apa yang diterapkan di Washington.

Mariyuana masih berada di kategori sama dengan kokain, heroin, dan methamphetamine, kata Durkan, yang menambahkan bahwa hanya Kongres yang dapat mengubah peruntukannya. (BBC Indonesia / Egidius Patnistik / Kompas)

Pemerintah Uruguay Mulai Jualan Ganja

Para penghisap ganja di Uruguay sekarang tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi menghisap ganja. Pasalnya, pemerintah negara itu telah melegalkan ganja dan bahkan memproduksinya untuk dikonsumsi rakyatnya pada bulan Oktober 2012 lalu.


Diberitakan Daily Mail,  pemerintah Uruguay akan memasok ganja untuk para pengguna dan hal ini diatur dalam hukum negara tersebut.

Dalam peraturan baru, ganja akan diatur peredarannya dan dibatasi penggunaannya oleh pemerintah. Untuk setiap paketnya seberat 40 gram, atau bisa dibuat 20 batang rokok ganja, Uruguay mematok harga sekitar Rp.332 ribu.

Para pembeli hanya boleh membeli satu paket setiap bulannya. Mereka akan ditandai dengan kartu barcode yang akan diserahkan setiap membeli. Jadi setiap bulan, rakyat boleh membeli maksimal 20 batang ganja.


Untuk memenuhi permintaan para pemadat, pemerintahan Presiden Uruguay Jose Mujica juga berencana menggarap perkebunan ganja seluas 150 hektar. Selain itu, pemerintah juga akan menerapkan standar kualitas agar ganja yang dijual tidak murahan. (vivanews / Daily Mail / dan berbagai sumber luar dan dalam negeri).

JUAL CBD OIL / CANNABIS OIL DI INDONESIA

GANJA MEDIS INDONESIA Jual Cannabis Oil Homemade         Rp 1.450.000 Jual Cannabis Oil Tinctur Jual CBD Oil Malaya Hemp Rp 1...